Minggu, 29 Desember 2013

Mengelola Kelas



     Benar kata para pakar pendidikan, bahwa guru adalah poros berputarnya bola pembelajaran. Selain mentransfer ilmu pengetahuan guru merupakan manajer di kelas peserta didiknya.
Layaknya manajer perusahaan, guru harus mengetahui satu per satu anak didiknya agar dapat menempatkannya pada pekerjaan secara tepat. Satu hal yang tidak boleh diabaikan, bahwa guru semestinya hafal nama murid-muridnya. Karena bagaimanapun anak yang dipanggil dengan namanya merasa dikenal dan diperhatikan, dan ini akan memberi stimulus tersendiri bagi anak untuk lebih dekat dengan sang guru selanjutnya. Baik saat pelajaran di kelas maupun dalam interaksi di luar kelas.

Langkah berikutnya, mengenal lebih dekat latar belakang masing-masing anak, dari kebiasaan sehari-harinya, keluarganya sampai pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tuanya di rumah. Sehari mengenal satu anak, maka di akhir semester guru akan mengenal semua anak didiknya. Hal ini akan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di sekolah. Selain itu akan terjalin hubungan emosional guru-murid yang sangat dibutuhkan dalam membangun pendidikan seutuhnya.
Kelas, yang merupakan rumah kedua bagi murid kita pun harus dikelola oleh guru dengan baik. Karena kenyamanan suasana kelas berbanding lurus dengan semangat anak dalam mengikuti proses belajar. Maka, ketika kita mendapati anak hilang konsentrasi, mengantuk, atau terlihat kebosanan di wajah mereka, kita harus mawas diri, karena barangkali akar masalah ada pada kita yang tidak pandai dalam mengelola kelas.
Sekedar berbagi pengalaman dalam pengelolaan kelas, berikut ini beberapa cara bagaimana menjadikan kelas sebagai tempat yang dirindukan siswa:
Pertama: Membuat prosedur kelas bersama siswa.
Di awal pembelajaran, guru meluangkan waktu untuk duduk bersama siswa, bermusyawarah untuk membahas prosedur kelas yang akan menjadi kontrak belajar mereka. Prosedur ini meliputi tata cara masuk kelas, keterlambatan, bertanya, izin keluar kelas dan sebagainya. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran pada diri anak karena prosedur dibuat oleh mereka sendiri. Setelah disepakati prosedur ini ditempel dan menjadi panduan warga kelas.
Kedua: Membuat organisasi kelas.
Kelas adalah komunitas terkecil dalam sekolah. Akan tertata rapi dengan adanya organisasi kelas meski sederhana. Guru membimbing siswa untuk membentuk struktur organisasi tersebut serta memberikan pengarahan tugas dari masing-masing bagian. Dengan ini anak belajar berorganisasi sejak dini dan memudahkan guru dalam pengontrolan kelasnya.
Ketiga: Mendesain kelas.
Kelas yang hidup adalah kelas yang dindingnya dipenuhi dengan karya siswa, bukan karya guru. Dinding seperti ini berbicara dan mengajari meski ada kesalahan di sana-sini. Berikan ruang berekspresi untuk siswa dengan tetap memperhatikan etika dan estetika. Demikian juga dalam tata meja dan bangku. Tatanan kelas yang monoton mau tidak mau berpengaruh pada kebosanan siswa. Bisa juga melakukan outing class, di lapangan, halaman atau taman sekolah untuk mendapatkan suasana baru.
Keempat: Pagi ceria.
Tidak ada jaminan bahwa semua siswa hadir ke sekolah dalam kondisi siap untuk belajar. Mungkin di antara mereka ada yang membawa kekesalan pada ibu atau ayahnya di rumah, mungkin juga pada temannya atau kendaraannya. Cairkan kekesalan itu dengan permainan ringan di awal pertemuan sekitar 5-10 menit, baru kemudian memulai pelajaran.
Kelima: Ice breaking.
Konsentrasi manusia sangat terbatas. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa lama konsentrasi adalah umur ditambah 5-10 menit. Hal ini menuntut guru untuk pandai membaca situasi. Ketika mendapatkan sinyal kebekuan kelas maka hendaknya guru menghentikan sejenak pelajarannya dan melakukan ice breaking atau memecah kebekuan. Bisa dengan gerak badan, permainan kecil, teka teki, cerita inspiratif, yel-yel motivasi dan sebagainya. Dengan ini konsentrasi akan mulai kembali.
Keenam: Menutup pelajaran dengan motivasi.
Akhir pelajaran juga merupakan waktu yang menentukan semangat untuk esok hari. Nasehat, harapan atau motivasi yang tulus dapat menjadikan siswa rindu kembali ke sekolah lagi. Tatap mata siswa dengan penuh semangat dan iringi kepulangan mereka dengan doa semoga Allah memberi manfaat pada ilmu yang dipelajarinya dan menjadikan mereka generasi yang tangguh di masa mendatang.

Ditulis untuk majalah Pena Atase Pend. KBRI Riyadh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar