Rabu, 05 Februari 2014

Menjelajah Jalan Hijrah



Rambu penunjuk arah di jalanan Mekkah membawa kita ke masa awal tumbuh kembangnya Islam. Nama-nama tempat yang dulu hanya seperti dongeng di buku cerita kini kita lewati dan kita singgahi. Ya, Allah telah menganugerahkan kenikmatan tiada tara dengan kesempatan menginjakkan kaki di bumi suci untuk melihat dari dekat tapak tilas perjalanan Nabi mulia Muhammad -shallallah 'alaihi wasallam- dan para shahabatnya yang mulia.

Bebatuan keras menjadi pemandangan yang menghiasi kota turunnya wahyu pertama ini. Ke arah manapun kita menebar pandangan kita, kita dapati gunung-gunung batu bertengger kokoh di sana. Seakan memberitahu kita tentang kerasnya watak orang-orang Quraisy yang memusuhi dakwah tauhid saat itu. Segala cara mereka upayakan untuk menghalang-halangi tersebarnya Islam. Karenanya, tak salah Allah memilih Nabi yang telaten, ulet, dan penyabar untuk menghadapi mereka. 13 tahun dijalaninya kendati dibawah celaan, tekanan, siksaan, bahkan ancaman pembunuhan.

Siang itu panas Mekkah memuncak dan terik matahari sangat menyengat, jalanan Mekkah lengang karena orang lebih memilih untuk berteduh di rumahnya. Nabi -shallallah 'alaihi wasallam- mengendap menuju rumah Abu Bakar, teman sekaligus mertuanya, dengan mengenakan penutup kepala guna menyamarkan wajahnya. Hal yang tidak pernah beliau lakukan. "Pasti ada perkara besar" gumam Abu Bakar. Benar, beliau telah diizinkan oleh Allah untuk berhijrah ke Madinah dan memilihnya sebagai teman dalam perjalanan ini. Seketika rumah itu menjelma bak markas perang, strategi dirancang, logistik didata dan disiapkan, serta menentukan orang-orang yang akan terlibat, lengkap dengan tugas masing-masing.

Aisyah dan Asma' segera memposisikan diri menyiapkan perbekalan. Abdullah sendiri berfungsi sebagai informan, tugasnya membawa berita perkembangan situasi Mekkah. Ketiganya putra-putri Abu Bakar Ash Shiddiq -radhiyallahu 'anhum-. Sedangkan Amir, seorang penggembala didikan Abu Bakar berperan sebagai pengantar logistik. Strateginya, malam itu Nabi dan Abu Bakar akan menuju goa Tsaur dan akan berada di sana selama 3 hari. Informasi dan logistik diantarkan setiap malam. Pada hari ke empat Abdullah bin Uraiqit, penunjuk jalan jitu membawa tunggangan mereka berdua ke goa dan mengantar ke Madinah melalui jalan pesisir. Amir juga diikutkan untuk membantu selama perjalanan.

Strategi sedikit bergeser, ternyata pemuka Quraisy malam itu sepakat untuk memilih para pemuda perwakilan dari semua kabilah demi membunuh Nabi bersama-sama, sehingga bani Abdu Manaf [keluarga Nabi] tidak mungkin menuntut balas. Plan B diberlakukan, Ali bin Abi Thalib diperintahkan untuk menggantikan posisi Nabi di ranjang berselimut dengan selendang hijau yang selalu dikenakan Nabi saat tidur. Tujuannya untuk mengelabuhi mereka yang akan mengepung rumah Nabi. Abu bakar datang pada saat yang ditentukan dengan membawa seluruh harta yang ia miliki. Sesampai di rumah Nabi, ia berbisik memberi isyarat, "Wahai Nabi Allah!". "Nabi Allah sudah menuju ke sumur Maimun, segera susul ke sana", balas Ali dari balik selimut.

Betapa terperangahnya para pembunuh itu ketika mengetahui bahwa yang mereka tunggui itu bukan korban yang mereka incar. Quraisy semakin marah, sayembara dikumandangkan, siapa yang dapat membawa Muhammad dan Abu Bakar baik hidup maupun mati maka baginya seratus onta.

Pencarian mulai dilakukan, hingga sebagian mereka sampai ke mulut goa Tsaur. "Kalaupun mereka melihat ke arah kaki mereka niscaya mereka akan menemukan kami" kenang Abu Bakar dalam sebuah riwayat. Kondisi yang sangat mencekam yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat at Taubah: 40.

Kecemasan sedikit berkurang ketika orang-orang itu meninggalkan area goa. Strategi selanjutnya mulai berjalan, Abdullah mengupdate berita dan Amir membawa logistik selama 3 malam. Pada hari keempat sesuai perjanjian, Abdullah bin Uraiqit menjemput mereka untuk meneruskan perjalanan ke Madinah. Meski masih dalam kekufurannya, penunjuk jalan ini adalah orang yang amanah dan menguasai medan. Dipilihnya jalur pesisir pantai untuk menghindari pengejaran.

Ada orang dari bani Mudlaj yang melihat kelebat rombongan Nabi dari kejauhan dan menceritakannya kepada Suraqah dan teman-temannya. Tidak berfikir panjang, Suraqah segera bersiap mengejar Nabi setelah sebelumnya meminta kepada teman-temannya untuk merahasiakan hal ini. Ketika jarak semakin dekat ia mengundi antara jadi membunuh Nabi atau tidak, undian yang keluar adalah 'tidak', namun ia tetap maju. Saat itu Abu Bakar menangis, "Apa yang membuatmu menangis?" tanya Nabi. "Sungguh, aku tidak khawatirkan diriku, tetapi takut jika ia benar-benar membunuhmu" jawabnya sambil sesekali menoleh ke belakang.  Nabi pun berdoa dan tiba-tiba kaki kuda Suraqah terperosok hingga ia terjatuh. Terlihat ada asap dari langit di tempat kaki kuda itu. Setelah berhasil bangkit ia mengundi kembali panahnya dan keluar 'tidak'. Demi melihat keajaiban ini ia berteriak meminta jaminan keamanan.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan yang menegangkan akhirnya sampailah rombongan di Quba', pinggiran Madinah. Nabi memilih untuk singgah di tempat ini untuk mengungkapkan kata perpisahan kepada Mekkah yang sangat beliau cintai, selain untuk beristirahat melepas kepenatan. Setelah 14 hari dan disela-sela itu beliau membangun masjid untuk pertama kalinya, beliau menuju jantung kota Madinah dan disambut dengan luar biasa oleh penduduknya.

Nilai Pengorbanan
Profil orang-orang luar biasa yang mengajarkan kepada kita arti sebuah pengorbanan. Nyawa terasa tidak bernilai lagi di hadapan janji Allah yang mereka yakini, harta pun sangat mudah mereka lepaskan jika itu untuk sang Nabi.

Pengorbanan adalah sikap yang muncul dari sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa hidup ini bukan untuk kenikmatan sesaat di dunia, tetapi ada kehidupan lain yang abadi tempat ia memetik balasan dari perbuatan yang ia tanam selama hidupnya. Kehidupan ini tidak untuk memenuhi nafsu syahwat ego pribadi, namun untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia. Kehidupan adalah pengabdian kepada Dzat Sang Pencipta yang seharusnya dijalani searah dengan alur aturanNya. Semakin kuat keyakinan yang demikian ini, maka akan semakin kuat pula pengorbanan yang akan dipersembahkannya, karena ia yakin bahwa apa yang dilakukannya tidak akan sia-sia.

Jiwa pengorbanan ini selayaknya kita teladani dan kita tumbuh kembangkan dalam pribadi kita, dalam kehidupan kita. Karakter ini tidak akan hadir begitu saja, diri kita harus dididik dan dibiasakan dengan keyakinan yang mendalam tentang Allah dan kehidupan akhirat. Selanjutnya kita belajar berkorban untuk orang lain, baik dengan harta maupun tenaga. Mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan diri sendiri, memberikan hak kita kepada saudara meski kita juga membutuhkannya, rela lelah untuk kebahagiaan orang lain, atau cara-cara lainnya. Kita bisa belajar dari lilin, ia merelakan dirinya terbakar guna memberi penerangan untuk orang-orang di sekitarnya.

Allah menceritakan perihal kaum Anshar dalam firmanNya, "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman [Anshor] sebelum [kedatangan] mereka [Muhajirin], mereka [Anshor] mencintai orang yang berhijrah kepada mereka [Muhajirin]. dan mereka [Anshor] tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang mereka berikan. Mereka mengutamakan [orang-orang Muhajirin] atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." [QS. Al Hasyr: 9].

Spirit Hijrah
Perjalanan hijrah Nabi dan para sahabatnya benar-benar menunjukkan semangat yang tak tertandingi. Demi mempertahankan keimanan, mereka rela meninggalkan kampung halaman yang sudah sekian lama mereka tinggali. Meninggalkan kemapanan ekonomi meski belum memiliki gambaran kerja di tempat baru nanti. Meninggalkan sanak saudara dan handai taulan kendati keterasingan telah menanti. Semua mereka jalani dengan sepenuh hati tanpa rasa terpaksa dan penyesalan, karena manisnya keimanan dan ketaatan telah merasuk kuat ke dalam hati.

Hijrah memang identik dengan meninggalkan negara kafir menuju negara Islam untuk meyelamatkan aqidah dan menghindari penyiksaan. Namun ada pula hijrah maknawiyah yang juga membawa spirit yang sama. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda yang artinya: "Orang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari kejahatan lidah dan tangannya, sedang orang muhajir [yang berhijrah] adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." [HR. Bukhari].

Dengan segala hikmahNya Allah telah menetapkan larangan-larangan bagi manusia. Selain untuk menguji keimanannya, larangan ini diberlakukan karena mengandung hal-hal yang pasti mendatangkan kerusakan bagi kehidupan manusia itu sendiri. Hanya saja syetan dan hawa nafsu yang selalu menghiasi larangan ini dan menggoda manusia untuk melakukannya. Spirit hijrah demi cinta Allah dan RasulNya semestinya kita bawa pada ranah ini. Seperti halnya hijrah hakiki, hijrah meninggalkan kemaksiatan memerlukan keyakinan, tekad kuat, dan keberanian. Keyakinan bahwa Allah akan membalas kita dengan surgaNya yang kekal di akhirat nanti, tekad kuat untuk menghindari kemaksiatan dan menggantinya dengan ketaatan, serta keberanian untuk melawan hawa nafsu dan syetan dari bangsa jin maupun manusia.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- berjanji, "Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali pasti Allah akan menggantinya untukmu dengan yang lebih baik." [HR. Ahmad, shahih].

* Ditulis untuk buku 'Ketika Tanah Suci Berbicara'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar