Kamis, 13 Maret 2014

Jika Harus Marah, Marahlah yang Bijak!



Tak semua keinginan dan kemauan orang tua dilakukan oleh anak, entah karena ia tidak mampu atau karena tidak mau. Hal ini sering kali menjadi pemicu sikap marah kita sebagai orang tua.
Sebagaimana sikap yang lain, marah adalah sikap yang diciptakan oleh Allah sebagai fitrah manusia. Setidaknya setiap menghadapi hal yang tidak disukainya, terlintas keinginan untuk marah. Hanya saja ada yang dapat menahannya dan ada pula yang memperturutkannya baik dengan ucapan maupun tindakan.

Oleh karenanya sabda Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-, "Jangan marah!" kepada Jariyah bin Qudamah saat meminta nesehat, semestinya kita pahami bahwa larangan yang dimaksud adalah sikap buruk yang dilakukan setelah lintasan rasa marah tersebut.
Islam memasukkan sikap marah ini di antara sekian deretan larangan karena dampak negatif yang dibawanya. Pasti, karena apa yang dilarang dalam Islam selalu memuat bahaya baik cepat maupun lambat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa luapan kemarahan dapat meningkatkan resiko jangka panjang berbagai penyakit, seperti serangan jantung dan stroke, melemahnya sistem kekebalan tubuh, penuaan dini, stres, hipertensi, dan penyakit lainnya. Hal ini dikarenakan suasana hati negatif akan mengganggu sirkulasi darah mulai dari jantung hingga ke anggota badan yang lain.
Namun, apakah berarti bahwa kita harus memanjakan anak dan tidak menunjukkan kemarahan kepadanya sama sekali?

Alasan marah
Kemarahan orang tua terhadap anak harus memiliki alasan yang tepat. Maksudnya, anak sudah sepantasnya mengetahui mengapa ia dimarahai agar kemarahan itu berfungsi efektif. Alasan-alasan itu bisa berupa kesalahan dalam akhlak budi pekerti, melanggar peraturan yang sudah disepakati, tidak melaksanakan perintah yang sesuai dengan situasinya, dan alasan jelas lainnya.
Ini menuntut kita para orang tua untuk melakukan tahapan-tahapan pendidikan sebelum memutuskan untuk memarahi si buah hati. Jika terkait tingkah laku, berarti penanaman akhlak yang baik harus dilakukan terlebih dahulu. Tidak masuk akal orang tua marah karena anak berbohong sementara ia belum pernah mengajarkan kejujuran sebelumnya. Dan jika alasan marah terkait peraturan maka seharusnya peraturan itu telah disepakati bersama anak. Adapun jika berkaitan dengan perintah, maka semestinya orang tua menyesuaikan perintahnya dengan situasi anak, baik umur, fisik, psikis, maupun kemampuannya. Jadi, tidak pantas orang tua marah jika anak tidak mematuhi perintahnya karena terlalu berat untuk anak seusianya.

Cara marah
Kemarahan yang tidak tepat akan berdampak negatif pada psikologi anak. Ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, tertutup, bahkan pemberontak. la pun bisa menjadi temperamental dan meniru kebiasaan orang tuanya ini.
Tujuan dari 'marah'nya (baca: teguran) orang tua adalah agar anak menyadari kesalahan yang telah dilakukannya dan tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Jika demikian, maka cara yang ditempuh pun seyogyanya mengarah pada sasaran ini.
Berikan teguran terlebih dahulu, karena bisa jadi anak sedang lupa saat itu, atau mencoba-coba kesalahan dan mengetes apakah orang tuanya akan menegurnya atau tidak. Jika dengan teguran pertama anak menyadari kesalahannya maka tidak ada alasan kita untuk memarahinya. Namun bila ia tetap melanjutkan kesalahan tersebut ada baiknya kita bertanya apa alasannya. Boleh jadi ia memiliki sudut pandang yang lain tentang perbuatannya. Nah, ketika alasannya tidak diterima maka saat itu kita bisa menunjukkan kemarahan kita.
Marah tidak selalu identik dengan teriakan atau pukulan, tidak pula harus berupa cacian, bentakan, ejekan, atau cambukan. Bahkan, cara-cara ini lebih banyak gagalnya dari pada manfaatnya.
Marah dengan bijak, mengapa tidak? Aturlah emosi dan tetap kendalikan kesadaran diri saat marah. Bagaimanapun juga orang yang sedang kita marahi adalah buah hati dan harapan kita. Pakailah suara pelan yang menyentuh perasaannya, intinya pesan bahwa kita marah dengan sikap anak sampai kepadanya. Ajaklah bicara dari hati ke hati tentang kesalahan yang diperbuatnya dan akibat yang akan ia terima. Hindari umpatan, sumpah serapah, makian, pelabelan anak nakal, pemalas, atau label lainnya.
Jika telah tenang ada baiknya orang tua menunjukkan bahwa ia tetap sayang padanya, dengan mencium misalnya. Jangan sampai anak menyimpulkan bahwa orang tuanya sudah tidak menginginkannya lagi, karena bisa saja hal ini mengilhaminya untuk kabur dari rumah atau bahkan bunuh diri. Oleh karenanya, para pemerhati pendidikan sangat mengecam kata-kata seperti, "Anak tidak berguna", "Kehilangan satu anak seperti kamu juga tidak rugi", dan semisalnya.
       Hal yang tidak boleh dilupakan dari cara-cara di atas adalah doa. Ya, doa orang tua untuk anak adalah doa yang mustajab. Maka, sertakan dalam doa-doa kita doa khusus untuk keshalehan anak-anak kita.

Ditulis untuk majalah PENA KBRI Riyadh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar